Mendidik Anak, Guru Tidak Sepenuhnya Jadi Super Hero

MEDIA CENTER, Palangka Raya – Berdasarkan frekuensi jam kerja, maka pendidikan alias guru hanya memiliki ruang waktu selama delapan jam, guna memberikan pembelajaran serta pendidikan bagi anak didik. Sementara waktu yang lebih panjang adalah tanggungjawab orang tua.

Ungkapan tersebut disampaikan Wakil Walikota Palangka Raya Mofit Saptono Subagio saat berbicara pada acara pelepasan peserta didik kelas VI SD Negeri Percobaan Palangka Raya tahun pelajaran 2017/2018, Sabtu (12/5/2018), di Swissbell Hotel Danum Palangka Raya.

Menurut Mofit, sejatinya anak didik lebih besar membutuhkan hak untuk mendapatkan perhatian dan pendidikan dari orang tuanya. Sebab itulah orang tua, jangan sepenuhnya menyerahkan atau melimpahkan keberlangsungan anaknya kepada guru.

“Guru itu bukanlah sosok yang bisa jadi super hero, super pintar atau super cerdas. Guru memiliki banyak keterbatasan. Terhitung hanya 8 jam saja guru bisa mendidik peserta didik,” ungkapnya.

Lanjut Mofit mengatakan, di era globalisasi yang diiringi dengan kemajuan teknologi saat ini, peran guru disadari semakin berat dalam memberikan penguatan jati diri peserta didik. Tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga penguatan moral dan akhlak, sehingga peserta didik tidak terjerembab dalam arus kemajuan zaman secara berlebihan, hingga melupakan karakternya.

Sebab itu dalam kondisi saat ini, maka orangtua tetap dituntut untuk bekerjasama dengan guru, saling isi mengisi dalam memberikan pengetahuan dan dorongan agar karakter moral anak tetap teguh. “Kita harus sadari, kondisi saat ini seakan tidak ada batasnya, banyak anak didik yang sudah melupakan sendi-sendi budaya, kebiasaan dan adat istiadat, karena tergerus kerasnya zaman,”ucapnya.

Fakta itu terlihat, ketika anak didik mulai usia sebelum PAUD atau TK sudah bisa memainkan handphone, gadget maupun smartphone, terlebih anak didik pada usia memasuki remaja, tentunya lebih lihai memainkan fitur-fitur yang bisa saja membiusnya dalam berbagai aspek, bila tidak diawasi oleh orangtua.

“Kita tidak mungkin menolak kemajuan zaman, Tetapi alangkah baiknya bila kemajuan itu lebih dimanfaatkan sebagai model penunjang pendidikan anak,” cetusnya.

Misalkan kata Mofit, guru di sekolah ataupun orantua di rumah dapat memanfaatkan kemajuan teknolgi sebagai penunjang ilmu pengetahuan anak didik. Misalkan dimanfaatkan dalam menyediakan konten-konten yang menyangkut, agama, moral, akhlak, budi pekerti  dan karakter.

“Intinya, semua itu bukan tugas guru, orangtua juga harus peka. Bila hanya berharap sepenuhnya kepada guru, maka proses degradasi kemajuan bisa saja menjadi penghalang generasi, untuk menjadi SDM yang pintar dan cerdas,”tutupnya. (MC. Isen Mulang.1/engga)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan